MrAction

Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

Senin, 12 November 2012

Tanda orang merdeka

Hidup di negara yang merdeka, apakah sudah menjamin bahwa kita pun manusia merdeka ? Belum tentu. Karena merdeka yang sebenarnya bukanlah status yang diberikan oleh orang lain, namun harus diusahakan dan diraih sendiri. Banyak orang mengeluh, hidup di jaman merdeka, di tanah air yang sudah merdeka koq lebih sulit ? Bukannya tambah mudah, tapi tambah sulit.

Saya sering bertemu orang-orang yang mengherankan. Seorang tukang becak yang tertidur di siang bolong di atas jok becaknya yang sempit. Ketika ada seseorang membangunkan karena ingin meminta jasanya mengantar ke suatu tempat, tukang becak itu bangun sebentar. Masih dengan mata setengah terpejam, dia berkata, " becak yang lain saja, Pak", kemudian ia kembali tidur. Dia benar-benar menolak, walaupun dijanjikan akan mendapat bayaran dua kali lipat. Calon penumpang itu pun pergi mencari becak lain, yang jaraknya lumayan jauh, sambil menggelengkan kepalanya. Mungkin dia heran, hari gini ada orang menolak rejeki, pikirnya.

Bukan hanya calon penumpang itu yang penasaran. Aku pun penasaran. Apa yang mendorong tukang becak itu menolak mengantar calon penumpang itu. Maka saya tunggu sampai tukang becak itu bangun sambil makan siang di warung tegal langganan saya. Pada pemilik warteg itu saya tanyakan siapa tukang becak yang lagi tidur itu.

" Itu si Sarkim, Pak," katanya, " orang teraneh di dunia."

" Aneh ?"

" Bagaimana tidak aneh, Pak. Kalau ia sedang tidak mau mengantarkan penumpang, dibayar berapa pun dia tidak akan mau. Gemblung, mbokan ?"

Saya tersenyum. Mendadak muncul seorang lelaki yang tampak baru bangun dari tidurnya masuk ke warung minta air putih. Ya, dia tukang becak itu. Tanpa basa-basi dia duduk di bangku, mengambil sepotong tempe goreng dan menyantapnya.

" Makan, Mas," kata si tukang becak itu dengan mulut mengunyah tempe goreng.

" Ana penumpang ka, turu baen rikane," kata pelayan sambil meletakkan sepiring nasi dan oseng kacang panjang.

" Ngantuk," sahutnya sambil menyuap.

" Lha, kapan dapat duitnya kalau begitu ?" celetuk orang lelaki di sebelahnya.

" Ya, ada saja, Pak. Gusti Allah kan sudah ngatur rejeki masing-masing orang. Semua ada waktunya," sahut tukang becak itu sambil terus makan. " Yang penting jangan mau dijajah oleh uang, walaupun kita perlu uang, kalau ingin hidup sejahtera."

" Nggak bisa kaya, dong."

" Pak, orang kaya itu bukan orang yang duitnya banyak, rumahnya banyak, mobilnya banyak dan simpanannya banyak. Orang yang paling kaya itu orang yang kebutuhannya paling sedikit, sehingga dia bisa menikmati hidup."

Saya terkesima oleh kata-katanya yang sangat bernas. Kata-kata seperti itu seharusnya keluar dari mulut seorang sufi. Tapi tidak. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang tukang becak. Dia mungkin miskin, atau hidup pas-pasan, tapi dia merasa kaya, karena tidak ditunggangi oleh kebutuhan hidup yang menggunung. Dia bisa menikmati hidup. Dia bisa tidur nyenyak ketika orang lain dihela oleh pekerjaan dan target, layaknya mesin pembuat roti yang dipatok target.

Banyak orang yang sejak subuh sudah pergi bekerja, dan pulang sampai ke rumah larut malam. Mereka mungkin banyak duit, tetapi menikmati hidup dengan duitnya. Bahkan untuk sekedar bercengkerama dengan keluarga pun sulitnya minta ampun. Dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, mereka terus berlari dikejar target pekerjaan. Mereka seperti kuda penarik beban.

Nah, siapa yang merdeka ? Si tukang becak itukah, atau, si kaya itu ? *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar